puisi

Posted in Uncategorized on August 12, 2008 by epeha

Pagi 1

siul papasan lenting mendenting
pucuk dedaun reranting
lukisi pagi
sebelum terpelanting
deru gegas matahari

(2007)

Pagi 2

rerumput penyambut titian
tetapak halaman kusut masai
masygul rapikan rambut
rindukan dering sepeda matahari
yang tak kunjung muncul di ujung jembatan

akasiamu tepekur lesu
pagi ini cucu moyang pagi lalu
tak ada prenjak pekabarkan tamu

angin tak berembus
letih semalam badaikan teduh

tekunmu setia nenek tua
membaca cerita kaca jendela
tentang kembangan hidung dan mulut
juga ingus kering yang imut

setiamu jaring labalaba
di sudut gudang sekolah tua
menunggu gereja sapakan canda beranda

meski kau tahu itu

sore kemarin di lorong antarkelas
sejumput burung gerejamu tertatih
mengempit salib yang kini terselip
di uban buku tua di rak renta

(Mei 2008)

Telapak

Nenek, tak letih kau tuturkan
persahabatan jalan dan lengang
bisik gairah di tungkai lelah

ini semesta zaman gumunan
masihkah layak kita suntuki
perjalanan lempang kerontang
ditikam terik sengati kelupas kulit

(musang dan beludak lalu
tak lalangi serak suruk telapak telanjang kita
sibaki peluk panas pada batu)

Nenek, hamparan derap gagah
menghunjam di hadapan pun tak berdaya
berlindung dari limbur debu
apalah makna bekal telapak letup nanah

Jangan tengok sana!
Gua itu tak ada lagi kitab silat usang
pada pangkuan belulang

(bisikmu)
Kita hanya jelang rindang pohon di perempatan
dengarkan dongeng pertapa tua
yang sudah bosan bercerita

(Mei 2008)

Di Depan Perpustakaan

Pemulung itu tertunduk lesu
Kuhibur dia,
Aku pun penyemir usang sepatu

(Mei 2008)

Soap Opera Komedi Kamar Mandi

Posted in Uncategorized on August 12, 2008 by epeha

Indonesia menipu!
Kalimat tersebut kujumput pada suatu malam di warung angkring, di salah satu sudut Pakualaman, Jogja. Pernyataan nylekit itu terucap dari mulut seorang Prancis dengan tanpa sungkan, di sela-sela kunyahan jadah bakar. Teman yang sedang belajar bahasa Indonesia itu merasa ditipu melalui leaflet atau brosur promo tentang Indonesia. Dalam promo tersebut Indonesia digambarkan sebagai negara yang kental akan warna tradisional dan kehidupan budaya lokal. Kenyataannya?
Secara spesifik dia mengamati dari sisi acara televisi, karena laki-laki tersebut memang dosen di bidang media rekam. Maksudnya, kalau acara televisi kita, terutama di bidang entertainment, di-dubbing ke dalam bahasa Spanyol, jadilah televisi Spanyol, Meksiko, atau Venezuella. Kalau di-dubbing bahasa Inggris, jadilah televisi Amerika. Jadi, perbedaannya hanya dari sisi bahasa. Meskipun, kalau dikaji lebih lanjut, tidak jelas juga bahasa yang dianut bangsa entertainment televisi kita. Indonesia, bukan. Inggris, bukan. Betawi, bukan. Dari sisi ras pemain demikian juga. Indonesia, bukan. Amerika, bukan. Arab, bukan. India, bukan. Dari sisi kemasan acara membingungkan juga. Di bidang eskalator menuju dunia bintang angan-angan demikian juga: American Idol, Indonesian Idol, AFI, dan seabreg keinstanan yang lain. Acara ngrasani demikian juga. Mode pakaian, tak jelas juga. Bahkan dari penamaan stasiun televisi membingungkan juga.
Namanya juga televisi dunia angan. Maka jangan heran kalau kita kesulitan mengkaji makna yang terkandung di dalam nama stasiun televisi kita, misalnya Rajawali Citra Televisi Indonesia, Surya Citra Televisi, Indosiar, Global TV, Metro TV, AnTV, dan seterusnya. Mungkin maksud mereka Televisi Citra Rajawali Indonesia, yaitu televisi yang dicitrakan sebagai rajawali Indonesia. Sosok perkasa yang terbang melayang-melayang menguasai wilayah Indonesia. Mungkin maksud mereka Televisi Citra Surya, yaitu televisi yang dicitrakan sebagai matahari. Acara televisi stasiun tersebut menyinari dan menerangi. Mungkin maksud mereka Siaran Indo, TV Metro, TV An.
Konstruksi frasa yang lazim digunakan di dalam bahasa Indonesia, yaitu D-M (Diterangkan-Menerangkan) tidak mereka pakai. Mereka lebih suka konstruksi frasa yang lazim digunakan dalam bahasa Inggris, yaitu M-D (Menerangkan-Diterangkan). Mungkin mereka terbiasa menyebut ‘biru sepatu’ dan bukan ‘sepatu biru’.
Dalam konteks ini masih ada stasiun televisi yang namanya mudah dikaji maknanya, misalnya TVRI, TPI, dan TV7. Konstruksi frasa nama tersebut lazim dipakai di dalam bahasa Indonesia:Televisi Republik Indonesia (televisi milik Republik Indonesia), Televisi Pendidikan Indonesia (televisi yang berisi pendidikan Indonesia?), Televisi 7 (televisi bermerek 7).
Meskipun mereka bisa berkilah bahwa pemberian nama itu arbitrer (semena-mena), tetapi aromanya jelas sekali bahwa penamaan tersebut tidak bertumpu kepada kesemena-menaan, tetapi strategi dagang. Konon nama berbau Amerika lebih menjanjikan dibanding Indonesia. Hamburger lebih popular dibanding lemper.
Kita kembali ke warung angkring menemui sahabatku yang sejak tadi masih bersungut-sungut. Untuk menghiburnya, aku bercerita tentang Jogja era 70-an. Aku dan teman-temanku, dengan berselempang sarung, pada sore hari berangkat ke THR (Taman Hiburan Rakyat, sekarang menjadi Purawisata) untuk nonton acara televisi umum hitam putih. Saat itu tidak sembarang orang punya televisi, meskipun hanya hitam putih. Acara televisi dimulai pukul lima sore hingga dua belas malam. Stasiun televisi pun hanya ada TVRI. Acara yang paling ditunggu-tunggu Kethoprak, Album Minggu Ini, Film Akhir Pekan, Mannix, Rin Tin Tin, Bonanza, dan Kuncung lan Bawuk. Di antara acara ini, bagi masyarakat Jogja kelihatannya yang sangat disukai adalah Kethoprak dan Kuncung lan Bawuk; dua acara yang berpijak pada konsep budaya lokal.
Tetapi sekarang, seperti halnya bidang lain, hegemoni Amerika akhirnya merambah bidang pertelevisian juga. Tahun 1980-an, Jack Lang, Menteri Kebudayaan Prancis mengingatkan dengan keras, “Simbol imperialisme budaya,” ketika opera sabun Amerika menerobos Eropa.
Opera sabun merupakan perpanjangan kisah-kisah radio Amerika tahun 50-an dan roman Harlequin, komedi Italia. Bahkan di Amerika delapan puluh persen lebih acara televisi berjenis soap opera. Ke Indonesia mereka mengusung Dallas dan Dynasti. Dari Australia kita menerima The Bold and The Beautiful. Dari Meksiko, Venezuella, dan Spanyol, kita menyerap telenovella. Dari India kita menerima konsep drama yang ekstrim klise, mutlak hitam-putih mengharu biru. Semuanya itu soap opera. Diberi nama soap opera, karena konon, iklan yang mendominasi acara tersebut hanya seputar sabun atau kamar mandi: dari sabun mandi, sabun cuci, sampo, pasta gigi. Lebih jauh iklan yang menghiasi adalah teman-teman perangkat kamar mandi tersebut: pengharum kamar mandi, pengharum ruangan, minyak wangi, perangkat dapur, kosmetik, obat antinyamuk, sampai pembalut wanita. Pokoknya barang-barang yang menjadi perhatian kaum ibu.
Secara strategi dagang tidak salah kalau mereka membidik kaum wanita untuk dimanjakan pada jam kerja dan prime time (jam tayang utama sekitar pukul 19.00 sampai 21.30). Hal ini karena pada umumnya memang kaum wanitalah yang berkaitan dengan urusan belanja. Oleh karena itu jangan heran kalau opera sabun berkutat tentang wanita. Bahkan judul-judulnya pun wanita: Maria Mercedes, Marimar, Cassandra, Paulina, Rosalinda. Kita pun ikut-ikutan: Mutiara, Marisa, Mentari, Cahaya, Indah, Fitri, Chelsea, Jelita, Candy, Cinderella.
Konon, bertumpu pada karakter wanita itulah maka opera sabun yang di Indonesia diganti menjadi sinetron lebih mengutamakan cerita yang ekstrim dramatis mengharu biru. Wilayah penyerangan di zona perasaan. Bukan logika maupun kajian sinematografi sebagai seni. Garin Nugroho menyebutkan bahwa tokoh dalam opera sabun merupakan perwujudan boneka mainan sejak kecil yang dipajang mewah di toko-toko: mata biru, kulit putih, hidung mancung, rambut kemilau, bibir merah. Karena dipajang, siapa pun bisa menikmati dan mendambakan untuk memiliki boneka mahal tersebut. Dari kalangan kaya sampai jembel jelata.
Jangan terpingkal-pingkal kalau melihat busana, model rambut, maupun make up pemain sinetron. Maksud mereka tidak melucu tapi jadinya malah lelucon. Pakaian sekolah menggelikan. Rambut dan make up siswa membikin ngakak. Maksudku, pemandangan di sekolah bangsa sinetron lebih mirip perayaan halloween.. Ada siswa berpura-pura jadi orang yang baru bangun tidur. Rambut awut-awutan. Ada yang berpura-pura jadi tukang cat tembok, sehingga rambutnya belepotan cat. Ada yang berpura-pura baru keluar dari kamar mandi, sehingga rambutnya selalu kelihatan basah. Ada yang berpura-pura sebagai Napoleon Bonaparte, sehingga celananya ketat sekali. Sebaliknya ada yang juga yang berperan sebagai Ali Baba, celana kombor. Ada yang berpura-pura sebagai narapidana, sehingga ke mana-mana digayuti rantai. Ada siswi yang berperan sebagai Winnie the Pooh, sehingga kaos atau bajunya sangat ngampret, tidak sampai pinggang. Ada yang berperan sebagai orang miskin, tak cukup uang untuk beli rok, sehingga rok TK dipakai terus sampai SMA. Ada yang berperan sebagai pemain kabuki (drama Jepang), sehingga – baik laki-laki maupun perempuan – wajah mereka berbedak tebal dan berlipstik.
Selain kekonyolan tersebut, berlaku juga rumus lelucon dalam bangsa sinetron. Rumus yang berlaku adalah R = – L. Maksudnya, Rating (acara yang disukai) adalah acara yang minus Logika. Penonton televisi Indonesia adalah masyarakat yang tidak suka logika. Yang penting sederhana dan instan. Mereka suka kalau adegan berikutnya maupun akhir cerita seperti yang mereka harapkan.
Cerita tentang sekolah berarti kisah tentang ketololan cinta. Tidak ada permasalahan kemanusiaan maupun pendidikan yang mendalam. Adegan sebagian besar tidak di kelas, tetapi di kantin dan lorong antarkelas. Tokoh utama protagonis biasanya pandai di bidang akademik dan bintang olahraga, basket misalnya. Sosok guru digambarkan secara hiperbolis tetapi menggelikan. Dalam kelompok siswa ada yang dijadikan badut dan bahan olok-olokan, biasanya gendut dan makannya banyak. Ada yang menjadi kutu buku dan diwujudkan dalam sosok rambut lurus berbelah pinggir, berkaca mata tebal, tetapi malah terkesan blo’on. Pembantu rumah tangga berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta. Maklum, orang Betawi biasanya tidak menganggap DKI sebagai bagian dari Jawa. Mungkin DKI berada di pulau yang tak terdeteksi di dalam peta. Nama pembantu biasanya the old Javanese fashioned name. Misalnya, Inem, Paijo, Bejo, Iyem, Mbok, dan Iyah. Terkesan ada pelecehan suku. Bangsa sinetron itu lupa bahwa orang penting Indonesia banyak berasal dari Jawa. Bahkan presiden Indonesia semua berasal dari Jawa, kecuali Habibie sebagai presiden masa transisi, tanpa proses pemilihan. Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY, dari Jawa.
Di dalam kotak kaca impian itu semuanya jadi sederhana, klise, stereotip, hitam putih belaka. Watak manusia hanya ada dua: keterlaluan baik dan kebangeten jelek. Tokoh utama protagonis adalah wanita miskin yang dikuya-kuya, tetapi cantik dan sama sekali tidak kelihatan miskin. Bahkan penampilannya malah kelihatan lebih kaya dibanding juragannya. Hal ini tampak dari kulitnya yang tampak bukan kulit pekerja kasar, tetapi kulit tak pernah tercium matahari. Tokoh antagonis adalah sosok wanita cerewet yang perannya hanya mencaci maki. Oleh karenanya, konflik fisik yang disusun sebagian besar adalah konflik caci maki. Jadi direktur perusahaan sangat gampang, terbukti masih berusia sekitar 20 – 30-an sudah menjabat pemimpin perusahaan. Tetapi urusannya bukan strategi bisnis, melainkan cinta. Dalam kisah cinta segitiga, karena buntu dalam mengakhiri cerita, salah satu tokoh dimatikan, misalnya tiba-tiba ketabrak mobil. Penonton terharu, habis perkara. Setelah memenangkan perkelahian, sosok hero pujaan penonton biasanya ditampilkan dengan wajah berluka, tetapi lukanya berupa goresan atau memar samar-samar di dahi, pipi, atau samping bibir, sehingga kelihatan lebih macho. Mungkin penjahatnya memilih memukul bagian tersebut. Padahal dalam perkelahian bisa saja mulut jadi monyong, seputar mata benjol, dan gigi ompong. Pemerkosa juga tampak tolol. Sama sekali tidak tahu ilmu anatomi tubuh. Yang dilakukan hanya mengguncang-guncang pundak korban. Padahal pundak bukan bagian lemah. Akhirnya karena perkosaan itu bertele-tele, terlalu lama tak membuahkan hasil, datanglah sosok hero yang menghajar pemerkosa tolol nan sial tersebut.
Selain seputar pembodohan budaya di atas, materi sinetron lainnya didominasi dua materi. Pertama, seputar hantu yang tidak menakutkan, tetapi menjijikkan. Kedua, khurafat, takhayul, dan bid’ah yang berkedok agama Islam. Padahal cerita tersebut malah merusak akidah Islam.
Lamunan berisi kejengkelanku buyar ketika teman Prancisku tadi bertanya, “Apakah opera sabun di televisi Indonesia merupakan cerminan bangsa Indonesia?”
“Ya. Episode-episode dalam sinetron merupakan miniklimaks-miniklimaks. Tak pernah selesai. Sebuah cerita boleh selesai, tetapi akan diteruskan dengan cerita berfilusufi sama dalam judul lain. Demikian seterusnya. Dan ini merupakan cerminan kisah bangsa Indonesia. Tahun demi tahun berganti. Tokoh demi tokoh berganti. Kebijakan demi kebijakan berganti. Tetapi ceritanya masih tetap sama.*** epeha

Anak-anak Multimedia (Sebuah potongan cerita yang lepas )

Posted in Uncategorized on August 12, 2008 by epeha

Dalam hidup ini
banyak hal dapat menunggu
Tidaklah demikian dengan sang anak
Kepadanya “hari esok” tak da-pat kaukatakan
Ia hanya mengerti satu perka-taan saja:
“Hari ini.”
(Gabriella Mistra)

Tak dipungkiri, puisi karya penyair Chili di atas memang mencerminkan karakter univer-sal anak: “diktator” kecil yang manis dan imut.
Meskipun demikian kecenderungannya sekarang, demi anak orang tua bisa berbuat apa saja. Bahkan saking sayangnya, dengan alasan untuk mempersiapkan anak dalam bergulat melawan kekejaman dunia, sejak dini orang tua sudah membekali lengkap segenap sarana-prasarana plus skenarionya. Sehingga, sering tanpa sadar anak pun tercerabut dari jatidirinya. Tidak lagi seperti yang disyairkan oleh Gabriella Mistra di atas. Anak sekadar aktor dalam cerita lepas tak berjuntrung dan tak tahu mengapa harus memainkan peran tersebut.
Orang tua pun sadar sepenuhnya bahwa di era sekarang, teknologi plus asessori multimedianya merupa-kan senjata ampuh untuk me-naklukkan dunia. Sehingga dengan alasan tersebut orang tua banyak yang tergopoh-gopoh memakaikan perlengkapan ter-sebut ke tubuh anak sebagai senjata sekaligus pertahanan yang ampuh.
Dalam konteks masya-rakat yang memang sudah total memasuki era teknologi multi-media, baik mental, sosial, mau-pun budaya hal ini tidak menjadi masalah. Tapi dalam konteks masyarakat kita yang serba nanggung dan terbata-bata dalam membaca teknologi hal ini bisa menjadi masalah jika tidak dipersiapkan pijakannya. Pijakan yang dimaksud di sini adalah mental, sosial, dan buda-yanya.
Berkaitan dengan hal tersebut mungkin layak kita sitirkan tulisan Garin Nugroho:
Mereka hidup di dunia tumpang tindih, berhadapan dengan produk dari berbagai fase yang sering tidak selesai, dari pra-modern, modern, hingga pasca-modern: Inilah anak-anak yang lahir, hidup, dan menikmati revolusi interaktif multimedia.
Pernyataan Garin terse-but sesuai dengan ungkapan banyak kalangan tentang anak kita: anak instan. Tinggal pakai. Mereka tidak dibimbing menuju keterampilan prosesnya dan ti-dak jelas untuk apa itu semua. Pokoknya, seusai sekolah, mengikuti les, pulang, kunci ka-mar, dan masuk ke dunia tek-nologi multimedia.
Jangan anggap remeh dunia teknologi multimedia. Di sini semua tersedia. Bahkan seisi jagat bisa terdapat di dalam dunia canggih tersebut. Dari ilmu pengetahuan, hiburan, per-nik-pernik manusia, baik yang romantis maupun berdarah-da-rah. Dalam komputer multi-media, misalnya, anak bisa turut dalam jalinan cinta kasih, berkelit dari serangan lawan, bahkan dapat menghajar dan membunuh lawan. Bagi mereka, itu semua perkara sederhana.
Sayangnya, itu semua virtual belaka. Maya. Sebuah dunia tanpa daging, darah dan hati nurani. Akibatnya, dalam dunia yang nyata mereka bisa terperangah. Kekejaman, perke-lahian, keroyokan (baca: kepe-ngecutan), dan tawuran dalam konteks yang sebenarnya ter-nyata eksesnya tidak sese-derhana episode Virtual Fighter maupun Warcraft. Rasa takut, cemas, dan nyeri ternyata memang ada. Nyawa ternyata bisa melayang hanya dikare-nakan perkara sangat sepele. (Selamat jalan, Andika.)
Lantas, apakah tekno-logi merupakan dosa? Tidak! Teknologi harus dikuasai. Tek-nologi canggih harus berada di dalam genggaman. Bukan seba-liknya, kita malah seperti anak kecil di belantara pedalaman yang melihat mobil-mobilan, terperangah, terheran-heran, mengagung-agungkan, dan ber-sujud di hadapan tuhan kecil bernama teknologi canggih. Dengan kata lain, penalarannya harus dibenahi, yaitu, ternyata, teknologi hanya merupakan salah satu alat bantu untuk meraih dunia yang manusiawi. Di sini ada hati, darah, daging, cemas, takut, kecewa, bahagia, toleransi, dan tentunya ada cinta.***
Purnomo E Hudoyo

Guru

Posted in Uncategorized on August 12, 2008 by epeha

Di dalam bilik-bilik kelas anak-anak tak berwajah duduk tegak. Mereka serempak berteriak menirukan apa yang telah dilafalkan guru mereka, “We don’t need no education! We don’t need no close control!” Selanjutnya pasukan tegak dingin ini berdiri berurutan di atas eskalator yang membawa mereka memasuki mesin pelumat raksasa.
Demikianlah sejumput adegan videoclip The Wall Pink Floyd.
Satire yang dilantunkan David Gillmour dan konco-konconya ini memang menjadi masterpiece mereka. Sebuah refleksi natural manusiawi yang gaungnya selayaknya mampu menggedor dinding-dinding kaum pemikir pendidikan.
Apa boleh buat, pendidikan – bukan persekolahan – memang paling asyik untuk dikasak-kusuki. Karena, bagaimanapun, adanya dunia seperti sekarang adalah produk pendidikan. Sehingga amat wajar jika ada yang menggerutu, “Sungguh nonsense reformasi di Indonesia ini jika tidak dimulai dari reformasi pendidikan.”
Reformasi, ya, pembentukan kembali. Hanya sayangnya kata ‘kembali’ ini sekarang menjadi bias. Kata sederhana nan indah ini menjadi rumit. Kian diotak-atik, kian ruwet. Kita pun terengah-engah tanpa tahu jalan kembali di dalam labyrinth buatan kita sendiri. Sambil terengah-engah tanpa tahu jalan pulang – atau memang tidak ingin pulang? – kadang-kadang kita berpikir, agar terampil perlu keterampilan proses, lha kok smart solution soal pilihan ganda. Katanya otonomi, lha kok penyeragaman. Katanya hanya salah satu bagian alat pendidikan, lha kok menjadi tujuan pendidikan. Katanya bangsa yang menjunjung tinggi seni budaya, tetapi seberapa besar pikiran dan dana tercurah untuk bidang ini jika dibandingkan untuk bidang yang lain. Dan masih banyak paradoksitas yang lumrah muncul dalam pemikiran. Yah, konon kabarnya eksistensi manusia berpendidikan dimulai dari daya melitnya.
Kembali, ya, kembali. Mungkin ada baiknya istirah sejenak di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan dan membayangkan para guru kita dahulu, misalnya, Zoroaster, Kong Hu Chu, Budha, Mahavira, Isa, Muhammad, Sunan Kalijaga, Mohandas Gandhi, dan Ibu Theresia. Mereka adalah pendidik sejati. Meskipun terhijab oleh ruang dan waktu, plot pendidikan mereka sama: berpijak pada ketulusan, metode kesatuan antara akal, seni, kasih sayang, dengan tujuan pendidikan: ketenteraman hati dalam bingkai kemanusiaan. Sepertinya tak ada target pendidikan lain yang melebihi target tersebut. Mereka adalah agen perubahan. Di bawah pohon yang rindang, beralas rerumputan, guru dan murid-murid tak beralas kaki itu berkolaborasi. Mereka mengukir, tidak menyihir.
Perubahan tidak berarti mutant tetapi kembali menuju hakikat manusia. Kalau pendidikan hanya dipandang dari sudut industri, esok pagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan bisa merumahkan guru. Karena pengerahan guru selama ini ternyata tidak efektif dan sekadar penghambur-hamburan. Lebih baik membuka bimbingan belajar untuk menghadapi UAN, kursus komputer, bahasa Inggris, menjahit, bengkel, dan montir, misalnya. Alokasi waktu dan dana jauh lebih sedikit dibanding sekolah formal, tetapi output keterampilannya dijamin andal. Apalagi jika semua sudah serba-cyber, murid tidak lagi membutuhkan manusia. Anak-anak cukup berinteraksi dan bercanda dengan skrup, kabel, IC, microchip, dan perangkat sejenisnya. Tak perlu kasih sayang dan apresiasi terhadap sesama.
Kalau tidak, sejarah selalu berulang. Formasi otoritas pendidikan sering salah menafsirkan kepandaian, kepiawaian, bahkan nasib sesorang. Otoritas ini pernah menyepak Thomas Alva Edison keluar dari sekolah, karena menganggap anak genius ini luar biasa dungunya. Praktis hanya tiga bulan anak ini menikmati pendidikan formal. Jadi, tidaklah terlalu mengherankan kalau Thomas kecil melakukan eksperimen sendiri. Dia menduga bahwa telur menetas karena suhu yang hangat. Dan ibunya pun kaget, anak imut ini mengerami telur ayam. Hasil dari daya melitnya, sebelum usianya menyentuh 35 tahun dia sudah kesohor. Dari kejeniusannya lahir 1.093 barang baru buat orang sezamannya.
Di Italia ‘otoritas pendidikan’ juga memakan korban. Kali itu korbannya Galileo Galilei. Ilmuwan kondang yang putus kuliah karena miskin itu dipenjarakan di rumahnya sendiri karena teorinya bertentangan dengan teori yang dianut ‘otoritas’ meskipun sekarang orang bisa membuktikan teori mana yang benar. Amatlah beralasan kalau generasi berikutnya para pelaku pendidikan membaptis ilmuwan kelahiran Pisa ini sebagai simbol pemberontakan terhadap dogma dan kekuasaan otoriter yang membelenggu kemerdekaan berpikir.
Nun jauh di belahan anak benua sana sejarah setali tiga uang. Kali itu yang tertimpa adalah Rabindranath Tagore. Semasa kanak dia menyebut sekolah sebagai “siksaan yang tak tertahankan.” Tak heran bila pada usia tiga belas tahun dia berhenti menjadi siswa dan beralih menjadi penyair, kemudian menjadi pemikir India paling kesohor hingga detik ini: orang Asia pertama yang mendapatkan hadiah Nobel untuk kesusastraan. Tahun 1924 dia berbicara di depan para guru di Tiongkok, “Sering aku hitung tahun-tahun yang harus kujalani sebelum aku memperoleh kemerdekaanku. Aku membayangkan sihir gaib yang mampu mengubahku serta-merta menjadi dewasa. Baginya, sekolah seperti ruang tunggu yang pengap, sebelum seorang anak boleh pergi setelah dianggap ‘jadi’.
Ketiga anak tersebut mungkin hanya salah tiga anak di antara miliaran anak lain yang memiliki beban psikologis sehubungan dengan pendidikan. Saat ini mungkin mereka hidup lagi di kelas kita. Mereka bertanya, menyapa, menyalami, dan matanya menebar kasih sayang. Bahkan tidak jarang kita dapat banyak pengetahuan dari mereka. Anak-anak surga menebar itu semua dengan tulus. Mereka tidak perlu teori etika dan adab yang njlimet. Cukup satu kata: ketulusan. Mereka langsung bisa menerjemahkan dan mempraktikkan. Berbekal kata sederhana ini mungkin akan kita jelang masa emas pendidikan sepeti masa lalu. Di pagi hari, di ujung gang anak-anak menanti, berebut menyalami, berebut membawakan tas, dan berebut menuntunkan sepeda onthel kita.
Kembali, di bawah pohon rindang di samping kali kemericik sambil menikmati kicau burung papasan, dunia pendidikan jadi sangat simpel. Pendidikan dalam rangka memanusiakan. Pendidikan semacam katarsis mengasyikkan untuk menuju pembebasan. Pendidikan adalah pembuka jendela bagi murid. Guru tidak sekadar membisikkan definisi hangatnya cahaya matahari. Tetapi, biarkan murid sendiri yang menghirup segarnya udara, merasakan hangatnya sinar, bahkan menerjemahkan hakikat sinar tersebut.***

Hello world!

Posted in Uncategorized on July 15, 2008 by epeha

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!